Kamis, 27 Maret 2008

Untukmu, Sahabat...

Hari ini aku menulis ini untuk mu, secara khusus. Sebagai penghormatan terhadap langkah yang telah engkau tempuh hari ini. Engkau hebat, aku sangat menghargainya dan engkau harus mensyukurinya. Mungkin hari ini aku harus belajar banyak dari ketakjuban yang muncul dihatiku menyaksikan perjalanan hidupmu. Engkau telah memutuskan suatu perkara yang mutlak akan mempengaruhi hidupmu di masa depan. Yakinlah itu adalah kebahagiaan yang sengaja engkau datangkan.
Dalam hatimu aku yakin tidak sepotong harapanpun yang menginginkan momen ini akan kau lupakan. Di kemudian hari engkau pastilah senantiasa ingin mengingat-ingatnya. Menjadikan hiburan di kala sepi, menjadi penyejuk di kala gerah, dan pemersatu dalam kerenggangan bahkan penghancur bibit-bibit perpisahan. Dan suatu saat engkau pasti ingin mengatakan pada anak-anak cucu mu betapa berartinya semua itu, bahagianya hati menjalani hidup, melangkah terus maju tanpa harus menyerah oleh rintangan, dan contohlah yang baik-baik dari apa yang ada dalam perjalanan itu agar memperoleh petunjuk. Mungkin begitu kata-katamu menasehati mereka.
Aku menginsyafi, perjalanan hidup tak obahnya seperti sebuah siklus. Tiada henti dan terus berputar. Dan kita berusaha menggapai tahapan-tahapan siklus itu. Siklus yang telah ada dan berlaku untuk siapapun, telah dimulai sebelum kita sempat menyadarinya. Maka pantaslah engkau mendapat kebahagiaan itu. Engkau telah melewati sebuah siklus itu, siklus yang mungkin setiap orang menghendakinya. Dari sekian banyak orang yang masih berharap terhadap semua itu, engkau telah mendapatkannya hari ini. Lalu janganlah berfikir bahwa apa yang telah di dapatkan itu cedera. Langkah yang bisa jadi berujung penyesalan. Tak perlu kau lakukan itu, karena tak ada hal yang sempurna di dunia ini. Kita sedang berdiri di tempat yang fana, yang lantang menyatakan ketidak sempurnaanya. Dan tempat ini kejam kawan. Kesalahanmu tidak akan dimaafkannya. Jika kamu mengharapkan kesempurnaannya, ia tak segan-segan menghukummu dengan penderitaan.
Engkau telah terbawa siklus kebahagiaan, sesuatu yang dapat membawamu kepada kebahagiaan yang hakiki. Dengan ini ia sanggup mengantarmu kepintu gerbang kesempurnaan, di suatu saat, dengan menjalani apa yang kau alami dalam tuntunan. Kesempurnaan itu ada, kawan. Ia telah diciptakan untuk kita gapai. Mari kita arahkan peruntungan kita untuk meraihnya, bersama apa yang tiba-tiba hadir tanpa kita tahu sebelumnya itu akan ada. Ajaklah siapa saja yang bisa kau bawa.
Namun semuanya akan teramat panjang, kawan. Ini hanyalah sebahagian dari permulaan dari sekian banyak permulaan-permulaan yang kau alami. Janganlah merasa bosan untuk menjalani. Sambunglah selalu kebahagiaanmu dengan menciptakan nya sendiri. Tapi jangan dengan merusak yang telah ada. Aku yakin engkau pasti punya banyak cara untuk melakukannya.
Maafkanlah aku, kawan. Berikanlah itu untukku karena mungkin aku salah. Sebab ditulisan ini engkau mendapati aku seolah-olah sedang mengguruimu, menasehati mu. Perkenankanlah, karena sebenarnya semua ini tidak serta merta di tujukan untuk mu. Aku juga sedang menggurui diriku sendiri, menasehati diriku, agar saatnya nanti aku pun melakukannya. Alam takambang jadikan guru. Ketahuilah, aku adalah bagian dari alam itu. Alam fikirku menjelaskan sebuah idealisme itu, dan aku akan menuntut diriku untuk melaksanakannya.
Selamat datang dalam kehidupan yang baru, kawan. Cara yang baru, pola fikir yang baru, dan perasaan-perasaan yang baru. Mungkin disuatu pagi engkau akan terjaga dari tidurmu, tau-tau kau merasakan ada yang tidak biasa. Sempat tidak percaya ternyata ada suatu hal yang masih asing melengkapi hidupmu. Ada yang bertambah, membonceng di tengah jalan, dan terus akan kamu bawa di sepanjang jalan hidupmu. Sadarilah, bagian dari hidupmu itu tidak lagi seperti yang kemaren-kemaren. Eksistensi dirimu benar-benar akan nampak, hidupmu bukan hanya untuk dirimu sendiri.
Lalu selama ini kita memang bersahabat kawan. Bukan hanya dengan aku, tapi juga dengan banyak orang selain aku. Tapi akan ada seorang sahabat lagi dalam hidupmu yang akan lebih dekat daripada sahabat-sahabat yang pernah engkau punya. Yang akan lebih sering mendengar curahan hatimu, yang lebih banyak kepeduliannya terhadap kesusahanmu, yang senantiasa setia mendengar cerita-certiamu tentang esok hari, dan yang akan sering kau rasakan empatinya terhadap elegi-elegi mu tentang hidup. Entah apa lagi. Dan bisa-bisa membuka simpul matamu, bahwa engkau bisa memandang dunia ini dengan anggapan hanya milikmu semata.
Percayalah, setidak-tidaknya engkau akan sempat merasakan bahwa prasangkamu terhadap apa yang telah di anugrahkan tuhan sangat lah baik. Tapi engkau akan mendapatkan yang lebih dari itu. Aku yakin, kau akan bisa menghadirkan surga kecil dalam hidupmu. Selanjutnya engkau akan sanggup melakukan apa-apa yang dulu tak sanggup kau lakukan. Karena cintamu sudah berlabuh, kawan. Maka rasakanlah keajaibannya.
Hiasilah mahligai yang telah engkau bangun itu seindah-indahnya. Kau memilikinya, sesuatu yang dihargai dengan hidupmu. Aku yakin engkau takkan menyia-nyiakannya.
Aku akan berterima kasih padamu. Karena engkau telah memperlihatkan pada dunia bahwa engkau telah menempuh semuanya dengan optimisme. Engkau telah mengajarkan bahwa itu semua bukanlah mimpi yang buruk. Pilihan hidup itu benar-benar telah berbuah kebahagiaan. Engkau telah membuktikan cerita-cerita mereka. Engkau akan memupus keraguan di hati yang gamang. Maka yakinlah akan banyak yang ingin membuktikannya sesudahmu.
Maka doakanlah, semoga jabatan tanganmu dapat menularkan kenyataan dari harapan-harapan yang telah kau gapai terlebih dahulu. Kepada mereka-mereka yang turut mengulurkan tangan padamu, mengulaskan senyuman untukmu. Kepada mereka yang turut pula berdoa agar kenyataan yang telah mereka gapai lebih dahulu dari pada kamu, dapat pula menular kepadamu sesudahnya.
Amiiin.....

Atas nama sahabat-sahabatmu....

kk